PkM Universitas Terbuka Tingkatkan Pengetahuan Guru tentang Lingkungan Berbahasa Inggris di Sekolah Dasar
PkM Universitas Terbuka Tingkatkan Pengetahuan Guru tentang Lingkungan Berbahasa Inggris di Sekolah Dasar
Tangerang Selatan-Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBIS), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Terbuka (UT) berdampak nyata dalam meningkatkan pengetahuan 23 guru tentang strategi dalam membangun lingkungan berbahasa Inggris di lingkungan Sekolah Dasar (SD).
PkM yang bertajuk "Penguatan Lingkungan Berbahasa Inggris di Sekolah Dasar: Membentuk Kebiasaan Berbahasa Sejak Dini" ini berlangsung di SDN 1 Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten, pada 17 Juni hingga 5 Agustus 2026.
Ketua PkM PBIS, Dwi Rezki Hardianto, menerangkan bahwa PkM ini merupakan merespons hasil kajian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang akan mewajibkan mata pelajaran bahasa inggris di SD.
“Pada dasarnya PkM ini tidak lahir dari ruang kosong. Ini merupakan respons kami terhadap isu yang dilontarkan oleh pemerintah dan juga hasil dari kajian akademiknya yang akan mewajibkan mata pelajaran bahasa Inggris di SD tahun 2027. Selain itu, ini juga merupakan bentuk hilirisasi dari hasil riset-riset kami sebelumnya yang berkaitan dengan stategi dalam membangun kultur, hingga pendekatan dan metode pembelajaran bahasa inggris yang menarik,” terangnya.
Dosen PBIS ini menjelaskan lebih lanjut mengenai dampak nyata PkM ini terhadap peningkatan pengetahuan peserta. Hal tersebut terlihat dari hasil evaluasi yang dilakukan sebelum dan sesudah pelatihan.
“Hasil pre-test menunjukkan nilai rata-rata peserta sebesar 62,3. Setelah mengikuti pelatihan, nilai rata-rata post-test meningkat menjadi 89,92. Artinya, peningkatan ini menunjukkan keberhasilan dan dampak dari PkM ini,” jelasnya.
Menurut Dwi, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari pendekatan pelatihan yang menyesuaikan karakteristik peserta.
Sebagian besar guru yang mengikuti kegiatan berasal dari generasi Z dan milenial, sehingga pendekatan gamifikasi dan project-based learning dipilih agar materi lebih mudah dipahami.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberhasilan PKM tidak hanya diukur dari meningkatnya nilai peserta maupun sertifikat yang diterbitkan.
“Harapan kami, pelatihan ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan atau sekadar dibuktikan melalui sertifikat. Yang lebih penting adalah impementasinya yang secara bertahap dan berkelanjutan di SD. Inilah dampak sesungguhnya,” tegasnya.
Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Bahasa dan Sastra (BKBS) Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Iwan Setiawan, S.Pd., M.M., juga memberikan apresiasi terhadap PkM ini.
"Kami dari Dinas Pendidikan sangat mengapresiasi kegiatan ini. Pelatihan ini menjadi wadah untuk membimbing dan menguatkan kompetensi guru sehingga ketika kembali ke sekolah mereka dapat mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang berdampak pada peningkatan mutu pendidikan," ujarnya.
Iwan menambahkan bahwa peningkatan kompetensi guru merupakan investasi penting untuk menyiapkan sumber daya manusia pendidikan yang berkualitas.
“Hingga tahun 2030 akan ada kurang lebih seribu guru yang memasuki masa purnabakti. Oleh karena itu, kami membutuhkan guru-guru yang memiliki kompetensi dan mampu mendorong peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Lebak. Kami berharap sinergi antara UT dan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak dapat terus berlanjut dalam mendukung pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan,” pungkasnya.
Di sisi lain, Kepala SD Negeri 1 Tambakbaya, Aat Solihat, S.Pd., M.M., mengaku bersyukur atas pelaksanaan program pengembangan yang dilakukan oleh UT di sekolanya.
“Kami sangat bersyukur atas pelaksanaan PkM ini karena mampu mendorong adanya peningkatan kualitas di Kecamatan Cibadak, apalagi ini dilaksanakan di sekolah kami. Kami berharap kerja sama dengan UT dapat terus berlanjut melalui berbagai program pengembangan kompetensi guru,” singkatnya.
Manfaat pelatihan turut dirasakan oleh para peserta. Guru SD Negeri 3 Tambakbaya, Linda Desti Fatimah, merupakan salah satu peserta yang merasakannya. Ia mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar melalui PkM PBIS FKIP UT.
“Melalui pelatihan ini, saya jadi lebih paham bahwa bahasa Inggris tidak harus digunakan hanya saat mata pelajaran English saja. Kita juga bisa menyisipkan kosakata atau instruksi sederhana di mata pelajaran lain sehingga anak-anak terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa Inggris dalam kegiatan belajar sehari-hari,” paparnya.
Linda juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan.
"Semoga kegiatan PKM seperti ini dapat terus berlanjut karena sangat bermanfaat dan membantu guru maupun calon guru menjadi lebih percaya diri dalam membiasakan penggunaan bahasa Inggris di lingkungan sekolah sejak dini," tutupnya.
Perlu diketahui bahwa PBIS tidak sendiri dalam melaksanakan PkM ini. Mereka berkolaborasi dengan dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP UT dan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak dalam menyukseskan PkM Penguatan Lingkungan Berbahasa Inggris di SD. (*)
